MPPA

MPPA Catat Penjualan Rp7,25 Triliun Sepanjang Tahun 2025

MPPA Catat Penjualan Rp7,25 Triliun Sepanjang Tahun 2025
MPPA Catat Penjualan Rp7,25 Triliun Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Di tengah dinamika industri ritel yang masih menghadapi tantangan daya beli dan persaingan ketat, pengelola jaringan Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), mencatatkan pertumbuhan penjualan sepanjang 2025. 

Perseroan berhasil menjaga tren top-line tetap positif sekaligus melanjutkan pembenahan fundamental bisnis yang telah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

Emiten ritel tersebut membukukan penjualan bersih sebesar Rp7,25 triliun sepanjang 2025. Angka ini tumbuh 1,9% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di level Rp7,11 triliun. Kinerja tersebut disampaikan dalam laporan keuangan yang dirilis pada Selasa.

Selain pertumbuhan pendapatan, perseroan juga mencatatkan peningkatan laba bruto. Sepanjang tahun buku 2025, laba bruto naik 2,8% menjadi Rp1,26 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh perbaikan bauran penjualan serta strategi merchandising yang dinilai lebih efektif dalam mendorong margin.

Pertumbuhan Penjualan Dan Laba Bruto Menguat

Kinerja penjualan Rp7,25 triliun mencerminkan upaya MPPA dalam menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Pertumbuhan 1,9% mungkin terlihat moderat, namun tetap menunjukkan daya tahan perusahaan di sektor ritel modern yang sangat kompetitif.

Penebalan laba bruto sebesar 2,8% menjadi Rp1,26 triliun memperlihatkan adanya optimalisasi pada sisi operasional dan pengelolaan produk. Strategi merchandising yang lebih terarah serta perbaikan komposisi produk diyakini memberi kontribusi pada peningkatan margin tersebut.

CEO MPPA, Adrian Suherman, menjelaskan bahwa kinerja FY 2025 mencerminkan kemajuan berkelanjutan dalam memperkuat fundamental perseroan melalui pengelolaan biaya yang disiplin.

“Respons positif terhadap inisiatif rebranding semakin memperkuat keyakinan kami bahwa upaya ini akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Adrian dalam keterangan resmi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi merek dan pembaruan konsep toko menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam menjaga relevansi di mata konsumen.

Laba Operasional Terkoreksi Di Tengah Investasi

Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan, MPPA membukukan laba operasional sebesar Rp26 miliar pada 2025. Perolehan ini menurun 23,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp33 miliar.

Penurunan laba operasional ini bukan tanpa sebab. Manajemen menyebutkan bahwa perseroan tetap agresif melakukan investasi pada berbagai inisiatif strategis. 

Fokus diarahkan pada penguatan operasional, pengembangan format ritel baru, serta penyegaran produk guna meningkatkan daya saing jangka panjang.

Langkah investasi tersebut berdampak pada beban yang harus ditanggung dalam jangka pendek. Namun, perusahaan memandang strategi ini sebagai fondasi penting untuk memperkuat posisi bisnis di masa mendatang, terutama menghadapi persaingan dengan peritel besar lainnya di dalam negeri.

Rugi Tahun Berjalan Dan Faktor Non Operasional

Di sisi lain, MPPA masih mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar Rp152,19 miliar pada 2025. Angka ini meningkat dibandingkan rugi Rp118,11 miliar pada 2024.

Manajemen menyebutkan bahwa pembengkakan rugi tersebut dipengaruhi oleh beban non-operasional. Sementara itu, kinerja operasional inti ritel diklaim tetap menunjukkan resiliensi di tengah tekanan industri.

Dengan kata lain, meski secara bottom line perusahaan masih membukukan kerugian, aktivitas inti ritel dinilai tetap berjalan stabil. Hal ini menjadi penekanan penting manajemen bahwa proses transformasi dan investasi yang tengah dilakukan belum sepenuhnya tercermin dalam laba bersih, namun diharapkan memberi dampak positif secara bertahap.

Strategi Ekspansi Dan Fokus Pelanggan

Memasuki 2026, MPPA menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat pertumbuhan. Perseroan akan memfokuskan diri pada percepatan strategi yang berorientasi pelanggan, khususnya dengan memastikan ketersediaan produk segar serta kebutuhan keluarga dengan harga terjangkau.

Selain itu, perusahaan berencana meningkatkan produktivitas gerai yang sudah ada. Optimalisasi toko diharapkan mampu mendongkrak penjualan per meter persegi sekaligus memperbaiki efisiensi operasional.

MPPA juga membuka peluang ekspansi selektif, terutama ke wilayah yang belum terjangkau atau underserved. Pendekatan ritel terintegrasi serta peningkatan keterlibatan digital menjadi bagian dari agenda pengembangan tersebut. Integrasi kanal fisik dan digital dinilai krusial untuk menjawab perubahan perilaku belanja konsumen yang semakin mengarah ke model omnichannel.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga menyiapkan fondasi bisnis yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar.

Secara keseluruhan, capaian penjualan Rp7,25 triliun pada 2025 menjadi sinyal bahwa MPPA masih mampu bertahan dan bertumbuh di tengah tantangan industri. 

Walau laba operasional menurun dan rugi tahun berjalan membesar akibat beban non-operasional serta investasi strategis, manajemen tetap optimistis bahwa transformasi yang dijalankan akan memperkuat daya saing dan menciptakan nilai jangka panjang bagi perseroan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index