Dakwah Wali

Di Balik Takjil Kolak Pisang Tersimpan Nilai Dakwah Wali

Di Balik Takjil Kolak Pisang Tersimpan Nilai Dakwah Wali
Di Balik Takjil Kolak Pisang Tersimpan Nilai Dakwah Wali

JAKARTA - Setiap kali Ramadan tiba, berbagai hidangan khas mulai bermunculan untuk menemani waktu berbuka. Di antara beragam pilihan tersebut, kolak pisang menjadi salah satu sajian yang paling lekat dengan tradisi masyarakat Indonesia. 

Rasa manis dari gula aren yang berpadu dengan santan gurih serta tekstur lembut pisang menjadikannya hidangan sederhana yang selalu dirindukan. 

Namun, kolak pisang ternyata bukan sekadar makanan pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, melainkan memiliki latar sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan budaya dan dakwah Islam di Nusantara.

Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa kolak mulai dikenal luas pada masa kerajaan Islam di wilayah Jawa, khususnya pada periode peralihan dari Demak menuju Mataram Islam. Meski demikian, akar kuliner ini diyakini jauh lebih tua. 

Jejak awalnya dapat ditelusuri hingga abad kesembilan Masehi ketika masyarakat Jawa Kuno telah mengenal olahan nira kelapa atau aren yang dimasak hingga mengental menjadi gula merah. 

Dari bahan dasar inilah perkembangan kolak kemudian bermula, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi hidangan manis yang dikenal saat ini.

Asal-Usul Kolak dalam Tradisi Kuliner Nusantara

Pada masa awal kemunculannya, masyarakat mengolah nira menjadi cairan kental yang disebut “kilang”. Seiring berjalannya waktu, kreativitas kuliner berkembang dengan menambahkan santan serta potongan bahan pangan seperti ubi dan pisang. 

Perpaduan tersebut menghasilkan sajian baru yang lebih kaya rasa dan tekstur, sekaligus mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Dari proses adaptasi inilah kolak lahir sebagai bagian dari tradisi makanan lokal.

Perkembangan kolak tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial dan budaya masyarakat Jawa. Bahan-bahannya yang sederhana membuat hidangan ini mudah dibuat di rumah maupun disajikan dalam kegiatan bersama. 

Kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan utama yang memungkinkan kolak bertahan lintas generasi. Hingga kini, resep dasarnya tetap dipertahankan meski variasinya terus bertambah mengikuti selera zaman.

Selain aspek kuliner, penamaan kolak juga memiliki beberapa penafsiran. Ada pendapat yang mengaitkannya dengan istilah Arab “kul laka” yang berarti “makanlah untukmu”. 

Tafsir lain menghubungkannya dengan kata yang merujuk pada Sang Pencipta. Ragam makna tersebut menunjukkan bahwa sejak awal, kolak tidak hanya dipahami sebagai makanan, tetapi juga memiliki nuansa spiritual yang menyertainya.

Peran Kolak sebagai Media Dakwah Para Wali

Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, pendekatan budaya menjadi strategi penting agar ajaran baru dapat diterima masyarakat. Kolak disebut-sebut dimanfaatkan sebagai salah satu sarana dakwah karena sifatnya yang sederhana dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. 

Melalui hidangan yang disukai banyak orang, pesan keagamaan dapat disampaikan dengan cara yang lembut tanpa menimbulkan penolakan.

Pemilihan kolak sebagai media dakwah bukan tanpa alasan. Bahan-bahannya mudah ditemukan, proses pembuatannya tidak rumit, serta dapat dinikmati bersama dalam suasana kebersamaan. 

Kondisi ini menciptakan ruang interaksi sosial yang mendukung penyampaian nilai-nilai spiritual. Dengan demikian, kolak berfungsi bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga jembatan komunikasi antara ajaran agama dan budaya lokal.

Pendekatan kultural semacam ini memperlihatkan bagaimana dakwah dapat berjalan selaras dengan tradisi masyarakat. Alih-alih menghapus kebiasaan lama, para penyebar Islam justru memberi makna baru pada unsur budaya yang sudah ada. Kolak menjadi contoh nyata perpaduan antara kuliner, simbolisme, dan penyebaran nilai religius.

Filosofi Bahan-Bahan dalam Semangkuk Kolak

Menariknya, setiap komponen dalam kolak dipercaya mengandung makna simbolis. Pisang kepok sering dikaitkan dengan kata “kapok” yang melambangkan ajakan untuk bertobat dan tidak mengulangi kesalahan. 

Ubi yang tertanam di dalam tanah dimaknai sebagai simbol mengubur dosa masa lalu. Sementara santan dihubungkan dengan kata yang berarti permohonan ampun, menggambarkan harapan manusia untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan.

Pemaknaan filosofis tersebut memperkuat posisi kolak sebagai hidangan bernilai spiritual. Saat dinikmati menjelang berbuka, kolak tidak hanya mengisi kebutuhan fisik, tetapi juga mengingatkan pada refleksi diri dan kesiapan menyambut bulan suci. Tradisi ini menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi sarana penyampaian pesan moral secara halus namun mendalam.

Pada mulanya, kolak dikonsumsi pada bulan Syaban sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri menghadapi Ramadan. Seiring waktu, kebiasaan tersebut bergeser hingga kolak identik dengan menu berbuka sepanjang bulan puasa. Perubahan ini menunjukkan kemampuan tradisi untuk beradaptasi tanpa kehilangan makna dasarnya.

Perkembangan Variasi Kolak di Berbagai Daerah

Sejalan dengan kekayaan kuliner Nusantara, kolak terus mengalami inovasi. Selain kolak pisang yang paling populer, muncul berbagai varian seperti kolak biji salak, kolak nangka, hingga kolak durian. 

Setiap daerah menghadirkan sentuhan khas sesuai bahan lokal yang tersedia, memperkaya ragam cita rasa tanpa meninggalkan konsep dasar hidangan manis bersantan.

Keberagaman tersebut menegaskan bahwa kolak merupakan bagian hidup dari budaya masyarakat. Ia tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan terus berkembang mengikuti zaman. Meski bentuknya beragam, nilai sejarah dan spiritual yang melekat tetap terjaga dalam setiap sajian.

Pada akhirnya, kolak pisang menjadi contoh bagaimana tradisi kuliner dapat memuat lapisan makna yang dalam. Dari jejak sejarah kuno, peran dalam dakwah, hingga filosofi bahan-bahannya, semua berpadu dalam satu hidangan sederhana. 

Kehadirannya di meja berbuka bukan sekadar pelengkap rasa manis, tetapi juga pengingat perjalanan panjang budaya dan keimanan di Nusantara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index