IMF Sarankan Jepang Terus Naikkan Suku Bunga dan Tahan Pajak

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:04:52 WIB
IMF Sarankan Jepang Terus Naikkan Suku Bunga dan Tahan Pajak

JAKARTA - Dalam upaya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan rekomendasi penting bagi pemerintah Jepang. IMF mendesak negara tersebut untuk terus menaikkan suku bunga dan menahan diri dari melakukan pemangkasan pajak lebih lanjut. 

Rekomendasi ini datang setelah kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal memiliki pandangan dovish, yang menyebabkan kekhawatiran pasar tentang kemungkinan penolakan terhadap kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih lanjut dari Bank of Japan (BOJ). 

IMF menekankan pentingnya menjaga kebijakan moneter yang independen dan tidak terlalu dipengaruhi oleh keputusan pemerintah.

Menurut IMF, jika Jepang tidak memperkuat kebijakan fiskalnya, maka ruang fiskal untuk merespons krisis ekonomi di masa depan akan semakin terbatas. Pasar pun mengkhawatirkan kebijakan pelonggaran fiskal yang berlebihan dapat memperburuk kondisi ekonomi yang sudah rentan. 

Dengan latar belakang tersebut, IMF memberikan serangkaian rekomendasi untuk menstabilkan ekonomi Jepang, yang juga menghadapi berbagai tantangan akibat utang publik yang terus meningkat.

Peringatan IMF tentang Dampak Pemangkasan Pajak

Salah satu poin utama yang disorot oleh IMF adalah potensi dampak negatif dari pemangkasan pajak konsumsi yang diajukan oleh Perdana Menteri Takaichi. 

Pada awalnya, Takaichi berencana untuk menangguhkan pajak konsumsi 8 persen atas penjualan makanan selama dua tahun sebagai bagian dari strategi fiskal untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. 

Namun, IMF memperingatkan bahwa langkah ini bisa menggerus kemampuan fiskal Jepang untuk mengatasi guncangan ekonomi yang lebih besar di masa depan.

IMF menjelaskan bahwa pemangkasan pajak konsumsi dapat membatasi ruang fiskal yang diperlukan untuk merespons krisis ekonomi atau ketidakpastian global. Hal ini bisa menambah risiko fiskal bagi Jepang, yang saat ini sudah menghadapi beban utang yang sangat tinggi. 

Sebaliknya, IMF mengusulkan agar kebijakan pajak yang lebih hati-hati diterapkan dan mengingatkan bahwa penangguhan pajak konsumsi atas makanan dapat membantu menekan beban biaya tanpa merugikan keuangan negara secara signifikan.

Proyeksi IMF untuk Kebijakan Suku Bunga dan Penarikan Akomodasi Moneter

IMF juga memberikan rekomendasi yang jelas mengenai kebijakan suku bunga di Jepang. Dengan inflasi yang telah melebihi target 2 persen selama hampir empat tahun terakhir, IMF menyarankan Bank of Japan (BOJ) untuk terus menarik kembali akomodasi moneter dan menaikkan suku bunga secara bertahap hingga mencapai tingkat netral pada tahun 2027. 

IMF memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga dua kali pada tahun 2026 dan sekali lagi pada 2027.

Kenaikan suku bunga bertujuan untuk mengendalikan inflasi yang sudah lebih tinggi dari target dan mengembalikan kestabilan ekonomi jangka panjang. Dengan kebijakan yang lebih ketat, BOJ diharapkan dapat menjaga kredibilitasnya dan memastikan ekspektasi inflasi tetap terjaga. 

IMF juga menekankan bahwa BOJ harus mempertahankan independensinya dalam menentukan kebijakan moneter tanpa campur tangan dari pemerintah, yang akan lebih mendukung kestabilan ekonomi negara.

Tantangan Ekonomi Jepang dan Rekomendasi Fiskal Jangka Menengah

Jepang saat ini menghadapi sejumlah tantangan besar terkait dengan utang publik yang terus meningkat. Sekitar seperempat belanja pemerintah Jepang dibiayai melalui utang, dan hampir setengah dari utang ini dimiliki oleh Bank of Japan setelah bertahun-tahun melakukan pelonggaran moneter besar-besaran. 

IMF memperingatkan bahwa dengan semakin meningkatnya utang, Jepang harus menyesuaikan kebijakan fiskalnya agar tidak terjebak dalam risiko utang yang semakin tinggi.

Selain itu, IMF memproyeksikan bahwa pembayaran bunga atas utang pemerintah Jepang akan meningkat dua kali lipat dari 2025 hingga 2031, seiring dengan pembaruan utang dengan imbal hasil yang lebih tinggi. 

Oleh karena itu, IMF menyerukan agar Jepang merumuskan kebijakan fiskal jangka menengah yang lebih kredibel, dengan "jangkar fiskal yang terdefinisi jelas." Rencana fiskal yang lebih terstruktur ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada utang dan menjaga daya tahan ekonomi Jepang terhadap guncangan eksternal.

Persiapan BOJ Menghadapi Volatilitas Pasar dan Likuiditas

Dalam menghadapi tantangan ekonomi ini, IMF juga mengingatkan Bank of Japan untuk terus memantau likuiditas pasar dan perubahan permintaan di kalangan investor. 

Seiring dengan pengurangan pembelian obligasi oleh BOJ dan pemangkasan neraca keuangan, pasar keuangan Jepang berisiko mengalami volatilitas yang lebih tinggi. IMF menyarankan agar BOJ siap melakukan "intervensi terarah yang luar biasa" jika volatilitas pasar mengganggu likuiditas atau menimbulkan ketidakstabilan pasar.

Intervensi tersebut bisa berupa operasi pembelian obligasi darurat, yang bertujuan untuk menjaga kestabilan pasar dan memastikan bahwa suku bunga tetap berada pada tingkat yang mendukung pertumbuhan ekonomi. IMF juga mengingatkan agar BOJ menjaga komunikasi yang jelas dengan pasar untuk menghindari reaksi pasar yang tidak diinginkan akibat perubahan kebijakan moneter yang mendalam.

Terkini